Beranda Tentang Program Pendampingan UMKM Aceh Mentor Bisnis Kurikulum UMKM Kiat Learn UMKM Dampingan Mitra Tim Artikel Kontak Konsultasi Gratis
Tips Usaha

Cara menghitung harga pokok produksi untuk UMKM pemula

Banyak UMKM menetapkan harga jual dari perkiraan, bukan hitungan. Berikut cara menghitung harga pokok produksi langkah demi langkah, lengkap dengan contoh sederhana.

Salah satu pertanyaan yang paling sering kami dengar dalam sesi pendampingan adalah: "Harga jual produk saya sudah pas belum?" Jawabannya hampir selalu sama — sulit dipastikan, karena harga ditetapkan dari perkiraan, bukan dari hitungan harga pokok produksi (HPP) yang sebenarnya.

Tanpa HPP yang jelas, usaha bisa saja terlihat ramai pembeli tetapi diam-diam merugi. Berikut cara menghitungnya langkah demi langkah.

Apa itu harga pokok produksi?

Harga pokok produksi adalah total biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu unit produk — mencakup bahan baku, tenaga kerja, dan biaya operasional produksi lainnya. HPP berbeda dari harga jual: HPP adalah titik impas (modal), sedangkan harga jual adalah HPP ditambah margin keuntungan yang diinginkan.

Banyak UMKM mencampurkan dua hal ini — menetapkan harga jual dari kebiasaan atau harga kompetitor, tanpa pernah tahu berapa sebenarnya modal per unit produknya.

Tiga komponen biaya HPP

  • Biaya bahan baku langsung — seluruh bahan yang menjadi bagian fisik produk, dihitung per unit, termasuk bahan baku utama dan pendukung (misal kemasan).
  • Biaya tenaga kerja langsung — upah pekerja yang terlibat langsung dalam proses produksi, dibagi dengan jumlah unit yang dihasilkan dalam periode yang sama.
  • Biaya overhead produksi — biaya tidak langsung yang tetap menempel pada proses produksi: listrik, gas, penyusutan alat, sewa tempat produksi, dan bahan habis pakai kecil.

Kesalahan paling umum adalah melupakan komponen ketiga — overhead — karena terasa "tidak kelihatan" dibanding bahan baku dan upah.

Rumus dasar HPP

HPP = Biaya Bahan Baku + Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Overhead Produksi

Setelah HPP per unit diketahui, harga jual dihitung dengan menambahkan margin:

Harga Jual = HPP + Margin Keuntungan yang Diinginkan

Contoh sederhana

Misalnya sebuah usaha kue rumahan memproduksi 50 potong kue dalam satu kali produksi, dengan rincian biaya sebagai berikut:

  • Bahan baku (tepung, gula, telur, dll): Rp 350.000
  • Upah tenaga kerja (1 hari produksi): Rp 100.000
  • Overhead (gas, listrik, kemasan): Rp 50.000

Total biaya produksi: Rp 500.000, dibagi 50 potong kue — maka HPP per potong adalah Rp 10.000. Jika usaha ini ingin margin 40%, harga jualnya menjadi Rp 14.000 per potong.

Tanpa perhitungan ini, pelaku usaha sering menjual di harga Rp 10.000–12.000 "karena itu harga pasaran" — padahal pada titik itu keuntungannya nyaris tidak ada, bahkan bisa merugi jika ada bahan yang terbuang.

Kesalahan umum yang perlu dihindari

  • Tidak menghitung upah sendiri — pemilik usaha sering tidak memasukkan waktu kerjanya sendiri sebagai biaya, padahal itu tetap sumber daya yang bernilai.
  • Mengabaikan bahan yang terbuang — sisa produksi atau produk gagal tetap memakan biaya dan perlu diperhitungkan.
  • Harga jual mengikuti kompetitor tanpa cek HPP sendiri — struktur biaya tiap usaha berbeda; harga yang sehat bagi kompetitor belum tentu sehat bagi Anda.
  • Tidak menghitung ulang saat harga bahan baku naik — HPP perlu diperbarui secara berkala, bukan ditetapkan sekali lalu dilupakan.

Perhitungan HPP yang rapi adalah fondasi dari modul "Keuangan Usaha & Akses Modal" dalam kurikulum pengembangan UMKM kami — sekaligus syarat dasar sebelum usaha siap mengajukan pembiayaan. Jika usahamu butuh pendampingan langsung untuk menghitungnya, mentor bisnis kami bisa membantu.

Penulis

M. Rizal Akbar

Co-Founder & Co-Director KIAT Advisory. Lulusan MBA Institut Teknologi Bandung dengan spesialisasi performance management.

Konsultasi Gratis